karena menulis itu

Featured

Menulis mungkin tidak lebih dari sekedar menyusun kata-kata hingga memiliki makna. Setiap tulisan mungkin tidak selalu membutuhkan pembaca untuk menjadikannya sebuah tulisan. Namun dalam sebuah tulisan akan selalu ada sesuatu yang berusaha untuk disampaikan dan dibagi. Selebihnya tergantung bagaimana si penulis dan si pembaca menilainya secara subjektif dan objektif. Berikut adalah beberapa tulisan yang pernah saya buat dalam kurun beberapa tahun belakangan yang ingin saya bagi. Karena pada akhirnya saya menyadari, berbagi tidak selalu mengurangi.

Rindu

Tags

Ada rindu yang aku simpan
Di bawah rimbun daun pepohonan
Di balik tirai gerimis malam
Di antara sela-sela rintik hujan

Dan rindu ini,
Kelak akan aku tebar di udara
Nanti akan aku tabur di lautan
Biar angin dan gelombang
Yang menitipkannya pada para nelayan

Mungkin rinduku akan diantar
Bersama bau amis ikan di pasar
Karenanya, rinduku tak usah kau cari
Ia selalu hadir tanpa pernah kau sadari

Demi Jakarta

Tags

Disclaimer: Saya bukan warga Jakarta dan saya tidak menyebut nama satu atau lebih dari kandidat Cagub dan Cawagub DKI untuk menjaga objektivitas dalam penulisan.

28 April 1966, dalam pelantikan Gubernur Ali Sadikin, Presiden Soekarno berpidato dan berikut beberapa kutipannya:

“Satu daripada tugas pemerintah kota (adalah) membuat kotanya bersih daripada sampah. Nah, orang yang bisa mengerti demikian, harus orang yang dijadikan walikota. Jangan cuma mengerti hal bestuurvoering (pelaksanaan pemerintahan).”

“Ada, ada yang ditakuti dari Ali Sadikin itu. Apa? Ali Sadikin itu orang yang keras. Orang keras. Dalam bahasa Belandanya malah ada yang berkata, dia een koppige vent, koppig. Saya kira dalam mengurus kota Jakarta Raya ini baik juga een beetje koppigheid (sedikit keras kepala).”

De mens left niet van brood alleen (manusia tidak cuma hidup dengan roti). Een natie left niet van brood alleen. (Satu bangsa tak cuma hidup dari roti). Makan itu, Ali Sadikin, ini hari engkau bisa kenyang, besok engkau bisa lapar. Tetapi ada hal-hal lain yang akan kau bawa ke alam baka. Yaitu ingatlah, nation pride, barang-barang yang abadi.”

“Saya menghendaki juga agar supaya bintang-bintang di langit seribu tahun lagi, sepuluh ribu tahun lagi masih menyaksikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar.”

“Cita-citaku mengenai kota Jakarta ini akan saya supplant kepadamu, seperti saya iris, saya masukkan di dalam kalbumu, Ali Sadikin. Itu bukan pekerjaan yang gampang memenuhi cita-cita, cita-cita yang besar. Tetapi Insya Allah SWT, doe je best (berusahalah sebaik-baiknya), agar supaya engkau dalam memegang kegubernuran Jakarta Raya ini benar-benar juga sekian tahun lagi masih orang mengingat, dit heft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin. Inilah yang dilakukan Ali Sadikin.”

(Dikutip dari “Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977″ oleh Ramadhan K.H.)

Ya, Ali Sadikin memang militer tetapi bukan hanya karena kemiliterannya beliau diangkat sebagai gubernur. Salah satunya karena koppig (keras) itu tadi. Kalau pun iya kenapa dipilih perwira KKO (Angkatan Laut)? Karena Jakarta ini kota pelabuhan maka Bung Karno menilai untuk mengangkat orang yang tahu urusan laut, tahu urusan pelabuhan. Jadi bukan semata-mata karena manajerial saja.🙂

Kala itu Jakarta memang mulai membangun. Stadion terbesar dan termegah pada jamannya, Masjid Istiqlal, Monumen Nasional, dan masih banyak lagi. Bangunan yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat dan tentunya membangun nation pride. Bukanlah ratusan mall, yang membuat kita punya nation pride.

Kalau ketika itu Indonesia sedang kesusahan soal anggaran negara dan rakyat masih miskin namun mereka mampu membangun itu semua, kenapa di era sekarang yang mana ekonomi sedang baik-baiknya membangun transportasi yang layak tak mampu? Membangunkan toilet sebagai fasilitas publik yang gratis tidak mampu? Membangun sesuatu yang mampu menjadi kebanggaan bersama tak harus dengan membangun stadion megah. Membangun kebanggaan bersama adalah membuat kota menjadi nyaman untuk ditinggali, membuat fasilitas publik yang layak, menciptakan sistem transportasi yang baik (tidak selalu harus modern), menciptakan kerukunan dan keamanan bagi tiap-tiap warganya. Bukankah ini yang kita inginkan?

Dan kebanggaan bersama itu bisa terwujud jika ada pemimpin yang mempunyai idealisme dan intergritas. Berpengalaman? Pendiri Republik ini tak punya pengalaman apa-apa soal memimpin bangsa tetapi mereka justru menjadi generasi paling idealis yang dimiliki Indonesia hingga saat ini. Mengutip kata-kata Anies Baswedan bahwa pemimpin justru mereka yang mampu menggandakan optimisme untuk perbaikan dan oleh karenanya rakyat percaya. Anies Baswedan memformulasikan TRUST = INTEGRITY + COMPETENCY + INTIMACY – SELF INTEREST. Self Interest (kepentingan pribadi) inilah yang makin lama makin menggerus rasa percaya warga pada pemimpinnya.

Membangun bangsa tak cukup hanya oleh pemimpinnya. Soekarno tak mampu membangun Indonesia sendirian dia butuh Ali Sadikin untuk membantunya membangun Jakarta, Ali Sadikin butuh bawahannya untuk membantunya membangun Jakarta, dan pada akhirnya butuh bantuan semua pihak untuk membangun Jakarta. Oleh karenanya hal pertama yang dilakukan pendiri bangsa adalah mencerdaskan rakyatnya. Pemberantasan buta huruf, Seminar soal Pancasila dan lain-lain. Memang, para pendiri bangsa memimpin kala rakyatnya miskin dan bodoh sedangkan pemimpin kita hari ini menghadapi rakyat yang apatis dan oportunis. Tetapi solusinya sama: Pencerdasan.

Oleh karenanya pilihlah pemimpin yang mempunyai integritas, kompetensi dan keintiman yang tinggi serta seminimal mungkin memiliki kepentingan pribadi/golongan. Menang atau kalah itu hal yang biasa dalam Pemilihan tetapi tidak mencerdaskan warga adalah bukti buruknya kepemimpinan. Keras dalam mengkritik pemerintah tetapi taat dalam pembayaran pajak adalah salah satu contoh sikap yang mencerdaskan. Membagikan uang dan sembako agar dirinya dipilih adalah hal yang tidak mencerdaskan karena seperti kutipan Bung Karno, “Suatu Bangsa tidak cuma hidup dari roti”. Rakyat butuh kebanggaan bersama, rakyat butuh pencerdasan.

Selamat memilih pemimpin, Jakarta!

Pengajaran dan Pendidikan

Tags

, , ,

Ada sebuah pertanyaan yang cukup menarik. Ketika para founding fathers kita berhasil memploklamasikan kemerdekaan dan mulai menyusun pemerintahan dalam kabinet pertama, mereka, yang menurut Harry A. Poeze adalah generasi paling idealis yang dimiliki bangsa ini, menetapkan Ki Hajar Dewantara sebagai Menteri Pengajaran? Mengapa Pengajaran? Akan menjadi pertanyaan untuk kita sekarang yang lebih terbiasa dengan istilah pendidikan dan kebudayaan? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama baru dibentuk pada Kabinet Syahrir III yang dijabat oleh Suwandi.

Mungkin banyak dari kita yang paham bahwa pengajaran hanyalah bagian dari pendidikan. Teaching is only small part of education. Lalu kenapa mereka memilih istilah pengajaran? Bukankah mereka paham salah satu tujuan Negara ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Tepatkah? Ataukah mereka  menganggap  tak ada perbedaan yang berarti antara pengajaran dan pendidikan?

Perkataan “pendidikan” dan “pengajaran” itu sering kali dipakai bersama-sama. Gabungan kedua perkataan ini dapat mengeruhkan pengertiannya yang aslinya. “Pengajaran” (onderwijs) itu tak lain dan tak bukan ialah salah satu bagian dari pendidikan. Jelasnya, pengajaran itu tidak lain ialah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan, serta juga memberi kecakapan pada anak-anak, yang kedua-duanya dapat berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin.

Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Ada pun maksudnya pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Ki Hajar Dewantara)

Kiranya telah jelas bahwasanya mereka dengan sadar (insyaf) memilih kata Pengajaran. Bukan Pendidikan. Baru setahun kemudian istilah pendidikan mulai digunakan pada Kabinet Syahrir III. Banyak hal yang mungkin mendasari pilihan tersebut. Seperti dipahami bahwa perjuangan untuk mencerdaskan bangsa pada awal kemerdekaan sungguh tidaklah mudah.

Waktu Pemerintah kolonial Belanda menyerah kepada Jepang, orang yang pandai membaca dan menulis di Indonesia tidak lebih dari 3% dari jumlah penduduk. Sekarang jumlah itu sudah ada di atas 90%.

Pada akhir pemerintahan Hindia Belanda jumlah mahasiswa pada perguruan tinggi berbilang ratusan, masih kurang dari seribu orang. Sekarang jumlahnya berbilang puluhan ribu. (Mohammad Hatta)

Jelas tertulis dalam sejarah bahwa cita-cita “mencerdaskan kehidupan bangsa” memacu semangat rakyat untuk bergerak. Seperti diceritakan Bung Hatta bahwa sejak proklamasi kemerdekaan banyak aktivitas yang ditujukan untuk memberantas buta huruf. Kursus-kursus pemberantasan buta huruf ada di mana-mana. Soekarno dan Hatta yang pada waktu itu adalah seorang Presiden dan Wakil Presiden pun turut turun tangan. Mengajarkan membaca. Pengajaran.

Pada permulaan kemerdekaan kita pemimpin-pemimpin yang idealis dan bersemangat mempunyai harapan besar akan dapat menghilangkan kemiskinan dari Indonesia dalam waktu kurang dari seperempat abad. (Mohammad Hatta)

Kesuksesan memberantas buta huruf ternyata tidaklah cukup. Mereka yang sudah bisa membaca dan menulis mulai kehilangan kemampuannya ketika tidak disertai cukupnya bahan bacaan yang berupa buku dan surat kabar. Kemiskinan pun belum dapat diberantas. Bahkan hingga saat ini.

Dan ketika Pendidikan dinilai sebagai jalan keluar yang paling mujarab dari kemiskinan sering kali dijadikan kambing hitam oleh sebuah generasi yang reaktif dan putus asa. Pendidikan bukan hal yang memiliki keampuhan bahkan Pancasila sekali pun tidak memiliki arti apa-apa tanpa ada pemahaman dan pengamalan.

Pertama harus kita ingat, bahwa pendidikan itu hanya suatu “tuntunan” di dalam tumbuhnya anak-anak kita. Berati bahwa hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.

Akan lebih teranglah uraian kita itu, jikalau kita ambil contoh atau perbandingan dalam hidupnya tumbuh-tumbuhan. Seorang petani (yang hakekatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki tanahnya, memelihara tanamannya, memberi rabuk dan air, memusnahkan ulat-ulatnya atau jamur-jamurnya yang mengganggu hidupnya tanamannya, begitu sebagainya; tetapi meskipun ia dapat memperbaiki pertumbuhan tanamannya itu, mengganti kodrat-iradaratnya padi, ia tak akan dapat. Misalnya ia tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung atau harus berbuah di dalam 3 bulan; pun tak dapat ia memeliharanya sebagai caranya memelihara tanaman kedelai dan sebagainya.

Mengenai perlu tidaknya tuntunan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dengan soal perlu atau tidaknya pemeliharaan di dalam tumbuhnya tanam-tanaman. Misalnya, kalau sebutir jagung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik, banyak airnya dan dapat sinar matahari, maka pemeliharaan dari bapak tani tentu akan menambah baiknya tanaman. Kalau tak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak mendapat sinar matahari atau kekurangan air, maka biji jagung itu, walaupun dasarnya baik, tak akan dapat tumbuh baik karena pengaruh keadaan. Sebaliknya kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya, akan tetapi ditanam dengan pemeliharaan yang sebaik-baiknya oleh bapak tani, maka biji itu akan dapat tumbuh lebih baik daripada biji lain-lainnya yang juga tidak baik dasarnya. (Ki Hajar Dewantara)

 Pendidikan bukan hanya persoalan institusional semata. Pendidikan tidak bisa hanya dibebankan pada institusi pendidikan dan tenaga pengajar semata. Tumbuhnya benih tidak hanya tergantung pada di mana ia ditanam dan dipelihara oleh petani seperti apa. Tapi kecukupan air dan sinar matahari ikut menentukan. Ketahanan terhadap bahaya hama yang mengancam pun tak kalah penting. Lingkungan sangat menentukan tumbuhnya benih itu.

Pendidikan diselenggarakan bukan untuk mengklasifikasikan siapa yang pintar dan siapa yang bodoh. Dengan pendidikan orang bisa membuka pintu masa depan dengan lebih lebar yang sebelumnya hanya diintip dari lubang kuncinya saja. Dengan pendidikan seseorang bisa membidik sasaran masa depannya dengan lebih jitu. Dengan pendidikan kita kita akan punya senjata untuk memerangi kebodohan, kita akan punya kemampuan menaklukkan kemiskinan dan kita akan memiliki daya juang untuk merebut kemakmuran seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa ini.

Benih mutu unggul yang ditanam oleh petani yang ahli sekali pun belum tentu tumbuh sebagaimana mestinya ketika ada orang yang mengurangi ketersediaan air untuk mengairi sawah demi keuntungan pribadinya. Termasuk berbagai pihak secara sengaja membuat para petani memiliki ketergantungan pada pupuk dan pada saatnya pihak tersebut akan menjualnya dengan harga yang tinggi. Oleh karenanya tumbuhnya bibit yang disemai itu tidak hanya bergantung pada petani semata, semua pihak memiliki peran baik secara langsung atau pun tidak langsung.

Pendidikan seharusnya tidak hanya ada di dalam ruang-ruang kelas. Pendidikan juga ada di dalam rumah. Pendidikan sudah semestinya muncul dalam masyarakat. Pendidikan harus terdapat pula dalam partai politik. Pendidikan wajib muncul dalam Pemerintahan. Untuk mencapai tujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa”, pendidikan harus berlangsung dan terselenggara dalam segala sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketika masyarakat sudah mulai mengartikan pendidikan hanyalah pengajaran yang terjadi dan berlangung di ruang-ruang kelas pada sebuah institusi pendidikan maka sejatinya masyarakat berpikir bahwa padi akan tumbuh subur di tanah persemaian yang baik ketika dipelihara oleh petani yang baik. Padahal ketersediaan air dan sinar matahari pun menjadi hal yang penting pula. Jelas adanya bahwa akan ada banyak pihak yang terlibat. Dan ketika pendidikan sudah mulai dimaknai sebagai pengajaran yang berlangsung di ruang kelas bukan lagi apa yang berlangsung di segala sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, masih tepatkah istilah Pendidikan dan Kebudayaan?

Education is constitutional duty of the state but it is moral duty for every educated individual. (Anies Baswedan)

Referensi:
Mohammad Hatta, “Sesudah 25 Tahun”, Dies Natalis IX Universitas Syah Kuala Darussalam, Banda Aceh, 2 September 1970.
Ki Hadjar Dewantara,”Karya Ki Hadjar Dewantara. Bagian Pertama: Pendidikan”, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Cetakan 1962.

kita berdamai dulu

Tags

Aku ingin menawarkan perdamaian. Padamu masa depan, yang seperti tak hentinya memberikan penawaran. Bukankah sudah aku katakan sebagaimana laju air sungai dan riak gelombangnya mengalir maka di sanalah perjalanan ini akan punya akhir. Aku ingin menjadi mentari yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri. Kapan harus pasang dan kapan harus surut. Kapan akan benderang dan kapan akan meredup.

Aku tak menginginkan angkasa yang penuh awan yang menawan. Pun aku tidak mengharapkan lautan lepas yang miskin gelombang dan tanpa karang menghadang. Aku ingin angin. Yang bisa bertiup perlahan mengantarkan nelayan mencari ikan. Yang mana juga mampu menjadi topan berkepanjangan yang memporak-porandakan seluruh isi jagad raya.

Dan ketika bumi menghentikan putaran dan rembulan menghentikan penyamaran maka sudah saatnya aku yang memutuskan. Karena masa depan bukanlah suatu tujuan dari sebuah perjalanan. masa depan adalah apa yang kamu lihat seluas mata memandang selama berjalan. Rerumputan yang bergoyang di hamparan sabana. Burung-burung yang terbang bebas lepas. Dan di sanalah arti kebebasan bisa ditemukan.

Kalau pada akhirnya aku memilih jalan damai, tidaklah berarti aku ingin mencari tahu siapa yang lebih dahulu memulai. Biarlah perjalanan ini aku nikmati sendiri. Agar tiap detik tak ada yang terlewat untuk dilihat. Agar tidak ada lagi perasaan salah melangkah. Bukankah aku punya pilihan untuk sejenak menghentikan perjalanan? Menikmati suasana hati, tanpa ada bayangan yang mengikuti.

krisis pemuda

Tags

,

Pemilihan umum masih jauh di ujung sana. Namun masihkah perlu dibahas akan segala hal ikhwalnya selama panji-panji yang dijunjung tinggi dan bendera-bendera partai yang melambai di udara tidak lagi memberikan perbedaan berarti selain warna dan gambar yang ada di dalamnya? Ideologi sepertinya sudah menjadi barang usang yang tidak lagi laku di pasaran. Pun koalisi nampaknya merupakan suatu usaha untuk mempertemukan kepentingan dalam membagi kekuasaan dibandingkan pada penyatuan cita-cita bangsa. Ah cita-cita bangsa, sudah barang langka sepertinya.

Namun dari pemilihan umum yang berlangsung dalam satu hari itulah masa depan bangsa, untuk paling tidak lima tahun berikutnya, ditentukan. Terkadang tidak begitu jelas alasan partai mengajukan nama-nama calon pemimpin. Bukankah pemimpin dikenal karena rekam jejaknya? Jejak seorang pemimpin brilian akan tetap tertinggal dan tidak akan tersapu oleh ombak besar sekali pun. Namun sayangnya di negara yang konon demokratis ini, pemimpin brilian terselip di antara para pemimpin karbitan. Pemimpin karbitan akan melihat masa depan bangsanya dengan kacamata kuda sedang pemimpin brilian akan melihatnya dengan teropong bintang.

Dan apa kabar dengan pemimpin Indonesia hari ini?

Beberapa pemimpin diawal karirnya ingin menjadi seorang pelari estafet. Yang mana ketika gilirannya tiba, maka dia akan berlari sekuat tenaga dan melakukan yang terbaik sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada pelari berikutnya. Namun seiring waktu berjalan, mereka biasanya ingin mengakhiri karir sebagai pelari maraton tanpa menyadari kekuatan fisiknya yang sudah melemah.

Generasi tua akan menawarkan berjuta pengalaman ketika generasi muda hanya menawarkan satu masa depan. Generasi muda memang terkadang berpikir “liar”, menawarkan hal yang seakan mustahil, yang oleh karenanya generasi tua terkadang merasa dirinya lebih layak.

Lalu kenapa justru Soekarno dan Hatta yang memproklamirkan kemerdekaan? Kenapa bukan dr. Soetomo? Kenapa bukan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto? Ataukah jauh sebelum itu Tjokroaminoto sudah menyadari bahwa dirinya harus mempersiapkan generasi muda seperti Soekarno, Kartosuwiryo dan Muso untuk melanjutkan perjuangannya?

Tan Malaka sudah berbicara tentang Republik Indonesia pada tahun 1925. Yang kemudian diikuti oleh Soekarno dan Hatta beberapa tahun setelahnya. Memang itu adalah pikiran “liar” mereka yang berusaha menawarkan hal yang mustahil jika ditilik pada masa itu namun mereka berjuang dan berusaha mati-matian dalam mewujudkannya. Dan terbukti bahwa anak muda tak selalu terburu nafsu dalam melangkah dan tanpa perhitungan yang matang.

Generasi muda yang tidak diberi kesempatan untuk mewujudkan cita-cita akan menjadi generasi muda yang putus asa melihat kekuasaan yang merajalela. Seharusnya generasi tua membimbing yang muda tentang bagaimana mencintai negeri ini dengan cara mereka masing-masing. Mengambil setiap peran kecil dalam memajukan bangsa ini. Karena membangun bangsa ini membutuhkan orang dalam jumlah besar yang mengambil peran kecil dibanding sejumlah kecil orang yang mengambil peran besar seperti terbukti beberapa dekade ke belakang.

Terkadang jabatan justru menjadi penghulu dalam perkawinan kepentingan dan ketamakan yang kelak akan menghasilkan keturunan berupa korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dimana kusumbangkan tenaga
Demi laju bangun negara
Tapi tak sempat ku berbicara
Lowongan kerja tak kudapatkan

(Krisis Pemuda – Iwan Fals)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.