Pemilihan umum masih jauh di ujung sana. Namun masihkah perlu dibahas akan segala hal ikhwalnya selama panji-panji yang dijunjung tinggi dan bendera-bendera partai yang melambai di udara tidak lagi memberikan perbedaan berarti selain warna dan gambar yang ada di dalamnya? Ideologi sepertinya sudah menjadi barang usang yang tidak lagi laku di pasaran. Pun koalisi nampaknya merupakan suatu usaha untuk mempertemukan kepentingan dalam membagi kekuasaan dibandingkan pada penyatuan cita-cita bangsa. Ah cita-cita bangsa, sudah barang langka sepertinya.
Namun dari pemilihan umum yang berlangsung dalam satu hari itulah masa depan bangsa, untuk paling tidak lima tahun berikutnya, ditentukan. Terkadang tidak begitu jelas alasan partai mengajukan nama-nama calon pemimpin. Bukankah pemimpin dikenal karena rekam jejaknya? Jejak seorang pemimpin brilian akan tetap tertinggal dan tidak akan tersapu oleh ombak besar sekali pun. Namun sayangnya di negara yang konon demokratis ini, pemimpin brilian terselip di antara para pemimpin karbitan. Pemimpin karbitan akan melihat masa depan bangsanya dengan kacamata kuda sedang pemimpin brilian akan melihatnya dengan teropong bintang.
Dan apa kabar dengan pemimpin Indonesia hari ini?
Beberapa pemimpin diawal karirnya ingin menjadi seorang pelari estafet. Yang mana ketika gilirannya tiba, maka dia akan berlari sekuat tenaga dan melakukan yang terbaik sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada pelari berikutnya. Namun seiring waktu berjalan, mereka biasanya ingin mengakhiri karir sebagai pelari maraton tanpa menyadari kekuatan fisiknya yang sudah melemah.
Generasi tua akan menawarkan berjuta pengalaman ketika generasi muda hanya menawarkan satu masa depan. Generasi muda memang terkadang berpikir “liar”, menawarkan hal yang seakan mustahil, yang oleh karenanya generasi tua terkadang merasa dirinya lebih layak.
Lalu kenapa justru Soekarno dan Hatta yang memproklamirkan kemerdekaan? Kenapa bukan dr. Soetomo? Kenapa bukan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto? Ataukah jauh sebelum itu Tjokroaminoto sudah menyadari bahwa dirinya harus mempersiapkan generasi muda seperti Soekarno, Kartosuwiryo dan Muso untuk melanjutkan perjuangannya?
Tan Malaka sudah berbicara tentang Republik Indonesia pada tahun 1925. Yang kemudian diikuti oleh Soekarno dan Hatta beberapa tahun setelahnya. Memang itu adalah pikiran “liar” mereka yang berusaha menawarkan hal yang mustahil jika ditilik pada masa itu namun mereka berjuang dan berusaha mati-matian dalam mewujudkannya. Dan terbukti bahwa anak muda tak selalu terburu nafsu dalam melangkah dan tanpa perhitungan yang matang.
Generasi muda yang tidak diberi kesempatan untuk mewujudkan cita-cita akan menjadi generasi muda yang putus asa melihat kekuasaan yang merajalela. Seharusnya generasi tua membimbing yang muda tentang bagaimana mencintai negeri ini dengan cara mereka masing-masing. Mengambil setiap peran kecil dalam memajukan bangsa ini. Karena membangun bangsa ini membutuhkan orang dalam jumlah besar yang mengambil peran kecil dibanding sejumlah kecil orang yang mengambil peran besar seperti terbukti beberapa dekade ke belakang.
Terkadang jabatan justru menjadi penghulu dalam perkawinan kepentingan dan ketamakan yang kelak akan menghasilkan keturunan berupa korupsi, kolusi dan nepotisme.
Dimana kusumbangkan tenaga
Demi laju bangun negara
Tapi tak sempat ku berbicara
Lowongan kerja tak kudapatkan
(Krisis Pemuda – Iwan Fals)