karena menulis itu

Featured

Menulis mungkin tidak lebih dari sekedar menyusun kata-kata hingga memiliki makna. Setiap tulisan mungkin tidak selalu membutuhkan pembaca untuk menjadikannya sebuah tulisan. Namun dalam sebuah tulisan akan selalu ada sesuatu yang berusaha untuk disampaikan dan dibagi. Selebihnya tergantung bagaimana si penulis dan si pembaca menilainya secara subjektif dan objektif. Berikut adalah beberapa tulisan yang pernah saya buat dalam kurun beberapa tahun belakangan yang ingin saya bagi. Karena pada akhirnya saya menyadari, berbagi tidak selalu mengurangi.

kita berdamai dulu

Tags

Aku ingin menawarkan perdamaian. Padamu masa depan, yang seperti tak hentinya memberikan penawaran. Bukankah sudah aku katakan sebagaimana laju air sungai dan riak gelombangnya mengalir maka di sanalah perjalanan ini akan punya akhir. Aku ingin menjadi mentari yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri. Kapan harus pasang dan kapan harus surut. Kapan akan benderang dan kapan akan meredup.

Aku tak menginginkan angkasa yang penuh awan yang menawan. Pun aku tidak mengharapkan lautan lepas yang miskin gelombang dan tanpa karang menghadang. Aku ingin angin. Yang bisa bertiup perlahan mengantarkan nelayan mencari ikan. Yang mana juga mampu menjadi topan berkepanjangan yang memporak-porandakan seluruh isi jagad raya.

Dan ketika bumi menghentikan putaran dan rembulan menghentikan penyamaran maka sudah saatnya aku yang memutuskan. Karena masa depan bukanlah suatu tujuan dari sebuah perjalanan. masa depan adalah apa yang kamu lihat seluas mata memandang selama berjalan. Rerumputan yang bergoyang di hamparan sabana. Burung-burung yang terbang bebas lepas. Dan di sanalah arti kebebasan bisa ditemukan.

Kalau pada akhirnya aku memilih jalan damai, tidaklah berarti aku ingin mencari tahu siapa yang lebih dahulu memulai. Biarlah perjalanan ini aku nikmati sendiri. Agar tiap detik tak ada yang terlewat untuk dilihat. Agar tidak ada lagi perasaan salah melangkah. Bukankah aku punya pilihan untuk sejenak menghentikan perjalanan? Menikmati suasana hati, tanpa ada bayangan yang mengikuti.

krisis pemuda

Tags

,

Pemilihan umum masih jauh di ujung sana. Namun masihkah perlu dibahas akan segala hal ikhwalnya selama panji-panji yang dijunjung tinggi dan bendera-bendera partai yang melambai di udara tidak lagi memberikan perbedaan berarti selain warna dan gambar yang ada di dalamnya? Ideologi sepertinya sudah menjadi barang usang yang tidak lagi laku di pasaran. Pun koalisi nampaknya merupakan suatu usaha untuk mempertemukan kepentingan dalam membagi kekuasaan dibandingkan pada penyatuan cita-cita bangsa. Ah cita-cita bangsa, sudah barang langka sepertinya.

Namun dari pemilihan umum yang berlangsung dalam satu hari itulah masa depan bangsa, untuk paling tidak lima tahun berikutnya, ditentukan. Terkadang tidak begitu jelas alasan partai mengajukan nama-nama calon pemimpin. Bukankah pemimpin dikenal karena rekam jejaknya? Jejak seorang pemimpin brilian akan tetap tertinggal dan tidak akan tersapu oleh ombak besar sekali pun. Namun sayangnya di negara yang konon demokratis ini, pemimpin brilian terselip di antara para pemimpin karbitan. Pemimpin karbitan akan melihat masa depan bangsanya dengan kacamata kuda sedang pemimpin brilian akan melihatnya dengan teropong bintang.

Dan apa kabar dengan pemimpin Indonesia hari ini?

Beberapa pemimpin diawal karirnya ingin menjadi seorang pelari estafet. Yang mana ketika gilirannya tiba, maka dia akan berlari sekuat tenaga dan melakukan yang terbaik sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada pelari berikutnya. Namun seiring waktu berjalan, mereka biasanya ingin mengakhiri karir sebagai pelari maraton tanpa menyadari kekuatan fisiknya yang sudah melemah.

Generasi tua akan menawarkan berjuta pengalaman ketika generasi muda hanya menawarkan satu masa depan. Generasi muda memang terkadang berpikir “liar”, menawarkan hal yang seakan mustahil, yang oleh karenanya generasi tua terkadang merasa dirinya lebih layak.

Lalu kenapa justru Soekarno dan Hatta yang memproklamirkan kemerdekaan? Kenapa bukan dr. Soetomo? Kenapa bukan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto? Ataukah jauh sebelum itu Tjokroaminoto sudah menyadari bahwa dirinya harus mempersiapkan generasi muda seperti Soekarno, Kartosuwiryo dan Muso untuk melanjutkan perjuangannya?

Tan Malaka sudah berbicara tentang Republik Indonesia pada tahun 1925. Yang kemudian diikuti oleh Soekarno dan Hatta beberapa tahun setelahnya. Memang itu adalah pikiran “liar” mereka yang berusaha menawarkan hal yang mustahil jika ditilik pada masa itu namun mereka berjuang dan berusaha mati-matian dalam mewujudkannya. Dan terbukti bahwa anak muda tak selalu terburu nafsu dalam melangkah dan tanpa perhitungan yang matang.

Generasi muda yang tidak diberi kesempatan untuk mewujudkan cita-cita akan menjadi generasi muda yang putus asa melihat kekuasaan yang merajalela. Seharusnya generasi tua membimbing yang muda tentang bagaimana mencintai negeri ini dengan cara mereka masing-masing. Mengambil setiap peran kecil dalam memajukan bangsa ini. Karena membangun bangsa ini membutuhkan orang dalam jumlah besar yang mengambil peran kecil dibanding sejumlah kecil orang yang mengambil peran besar seperti terbukti beberapa dekade ke belakang.

Terkadang jabatan justru menjadi penghulu dalam perkawinan kepentingan dan ketamakan yang kelak akan menghasilkan keturunan berupa korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dimana kusumbangkan tenaga
Demi laju bangun negara
Tapi tak sempat ku berbicara
Lowongan kerja tak kudapatkan

(Krisis Pemuda – Iwan Fals)

proklamator

Temperamen mereka begitu berlainan. Yang satu sebuah pribadi yang flamboyan, hangat, dan banyak ketawa. Yang kedua sebuah pribadi yang adem, rapi, dan serius, tapi bisa membosankan dalam pergaulan. Yang satu seorang orator; yang lain seorang penganalisis. Yang satu lebih terkesima oleh persatuan, kekeluargaan, kebersamaan; yang kedua lebih tertarik kepada efektivitas dan efisiensi.

Bahwa kemudian mereka duduk bersama di pucuk pimpinan, agaknya menunjukkan bahwa sebuah bangsa seperti Indonesia yang riuh rendah ini pada akhirnya memang harus mengakui adanya perbedaan yang besar dalam dirinya. Perbedaan itu, apa boleh buat, adalah satu bagian dari nasib sejarah, satu bagian dari nasib geografi.

(Goenawan Mohammad, Wakil, 29 Maret 1997)

Dan ketika gelombang politik mereka tidak berada dalam frekuensi yang sama, tidak serta merta “perpisahan” mereka diartikan sebagai “perceraian” di mana harta, rumah dan lain sebagainya menjadi perkara pelik dalam sengketa tentang kepemilikannya.

Oleh karena mereka menyadari bahwa republik ini bukan roti untuk dibagi atau pun fasilitas untuk memperkaya diri.

sebuah renungan

Tags

Sudah, berhentilah membicarakan hitam dan putih jika masih memilih bermain di arena abu-abu. Tak perlulah menantang perang jika belum siap kalah secara jantan. Tak usahlah lari ke negeri jauh karena terbukti Boven Digoel, Banda Neira, Flores, Bangka, Bengkulu, Parapat pun tak mampu mengubah pendirian seseorang. Sudah lupakan saja kebhinekaan jika mencintai perbedaan pun tidak sanggup sepenuh hati. Hentikan saja degup jantung pemuda yang membara cintanya pada bangsa jika perjuangan mereka justru seakan terabaikan.

Sesulit itukah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial?

Bangsa ini bukan rimba belantara yang punya raja rimba dan mengenal istilah rantai makanan, jaring-jaring makanan juga piramida makanan. Bangsa ini juga bukan ibarat kebun biatang di mana species di dalamnya hidup damai berdampingan dengan berbagai macam sekat buatan yang dibangun di antara mereka. Masihkah bangsa ini dikenal dengan keramah-tamahannya dan kegotong-royongannya? Masih sanggupkah perbedaan-perbedaan hidup berdampingan? Bukankah sudah seharusnya, barang siapa yang menjunjung tinggi demokrasi tidak boleh menepikan kebhinekaan?

Kekayaan bangsa ini bukan untuk diperebutkan hak kepemilikannya dalam sengketa berkepanjangan. Pun tidak pernah tersurat, kepada siapa kekayaan itu kelak akan diwariskan kecuali kepada segenap bangsa dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Dan mari berpikir kembali ketika bertanya: siapakah yang paling layak memimpin bangsa ini?

Akan sulit menemukan satu di antara puluhan atau bahkan ratusan juta jiwa di seluruh nusantara. Karena sesungguhnya seluruh dari yang puluhan bahkan ratusan juta jiwa tersebut adalah yang paling berhak memimpin bangsa ini. Karena terbukti sudah bahwa memimpin diri sendiri menjadi hal yang paling sulit dilakukan.

Semoga kita senantiasa termasuk pada orang yang terjaga ketulusannya dalam mencintai bangsa ini. Karena ibarat mencintai, cinta yang tulus tidak pernah berpikir apa yang akan diperoleh tetapi justru apa yang bisa diberikan.

SMA Taruna Nusantara

Mereka bersepakat bahwa kamulah yang paling bertanggung jawab atas letupan semangat yang berapi-api juga atas mimpi dan cita-cita yang semakin meninggi. Ibarat pemain catur, kamu adalah lawan yang tak tertandingi. Kamu sudah berpikir 4-5 langkah lebih jauh dari apa yang dipikirkan sang lawan. Seperti ketika orang-orang mempertanyakan proses kelahiranmu. Sebagian lain berpendapat kamu adalah anak kesayangan Bapak Pembangunan tetapi kamu meyakini benar bahwa kamu lahir dari rahim ibu pertiwi.

Kamu seorang pemberani. Berani mengajak anak-anak muda dari segala penjuru nusantara untuk menantang masa depan. Masa depan yang penuh ketidakpastian. Tetapi kamu mengatakan, justru dengan ketidakpastiannya ada peluang yang besar untuk menaklukkannya. Kamu tidak pernah mencetak anak-anak muda karena mencetak sama artinya kamu menghasilkan sesuatu yang besar secara kuantitas tetapi sama secara kualitas. Kamu tidak pernah mencetak tetapi kamu melahirkan, juga membesarkan. Sama seperti ketika ibu pertiwi melahirkanmu dua dasawarsa silam. Anak-anak muda itu kemudian dihadapkan pada sesuatu yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Dan ketika mereka mengalami, mungkin mereka belum mampu memahami. Ya, kamu memang pecatur ulung.

Kamu biarkan anak-anak muda itu tumbuh dan berkembang di dalam rumahmu. Rumah yang sederhana namun indah. Yang sengaja kamu bangun untuk mereka. Dan di sana lah anak-anak itu kamu tempa dengan caramu sendiri. Kamu kuatkan mereka dengan fisik, kamu persenjatai mereka dengan ilmu pengetahuan dan kamu bentengi mereka dengan kepribadian. Kamu pun mempengaruhi diri hingga hal-hal yang kecil sekali pun. Kamu menciptakan boulevard yang sedemikian panjang, kamu tempatkan berbagai prasasti, kamu menamakan berbagai tempat dengan nama-nama istimewa. Balairung Pancasila, Ruang Komunikasi Bersama, Graha, Cempaka, Kenanga, Seroja, Pamong. Perlukah lagi ada pertanyaan “Mengapa?”.

Kamu tidak pernah membeda-bedakan satu atau lain hal di antara mereka karena kamu tahu persis bagaimana perbedaan justru menguatkan. Bukankah karena perbedaan-perbedaan itu juga lah anak-anak muda itu kamu pertemukan? Kamu perlakukan mereka sama terhadap perbedaan yang mereka punya. Kamu tak pernah punya anak emas karena yang kamu yakini justru selalu ada permata dalam selimut lumpur. Kamu pun tidak pernah mengatur langkah apa yang akan mereka ambil dalam perjuangan menghadapi masa depan. Kamu yakin betul dengan bekal yang sudah kamu berikan. Sudah berapa banyak putra ibu pertiwi yang telah kamu besarkan dan kemudian kamu titipkan masa depan padanya. Mereka tumbuh dan berkembang juga memilih jalan hidup dengan cara mereka sendiri. Seperti kamu memilih jalan hidupmu sendiri.

Dan di usia kamu yang lebih dari dua dasawarsa kamu masih belum juga berhenti membantu ibu pertiwi dalam proses persalinannya. Anak-anak muda kembali dilahirkan. Mungkin kamu mengerti bahwa kamu dilahirkan bukan hanya untuk bertahan sepuluh atau pun dua puluh tahun saja. Kamu dilahirkan untuk menghadapi tantangan bangsa, sebuah bangsa yang harus mulai memiliki keyakinan akan terus bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Dan pada anak-anak muda itulah masa depan bangsa kamu titipkan.

Selamat Ulang Tahun SMA Taruna Nusantara.
Semoga senantiasa meyakinkan bahwasannya cita-cita dan mimpi itu ada,
tidak lain untuk diwujudkan dalam bentuk yang lebih nyata.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.